Kamis, 31 Januari 2013

Karya Ilmiah: Peran Aktif Mahasiswa dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Pulau Nias


ABSTRAK

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan pelatihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin berkembang, maka sangat membawa dampak positif terhadap kelangsungan hidup manusia.
Apabila perkembangan tersebut tidak dapat diikuti oleh manusia, terutama dalam dunia pendidikan, maka sangat mempengaruhi mutu pendidikan. Adapun faktor yang dapat mempengaruhi mutu pendidikan dimaksud adalah faktor internal dan eksternal. Agar mutu pendidikan di Pulau Nias dapat meningkat, maka salah satu faktor pendukungnya adalah peran aktif mahasiswa itu sendiri.
Penulisan makalah bertujuan (1) untuk mendeskripsikan peran mahasiswa dalam meningkatkan mutu pendidikan di Pulau Nias; (2) menjelaskan upaya  yang dapat dilakukan oleh mahasiswa agar meningkatnya mutu pendidikan di Pulau Nias; (3) untuk mendeskripsikan penyebabnya rendahnya mutu pendidikan di Pulau Nias.
Penulisan makalah ini, didasarkan pada hasil pengamatan penulis dan informasi-informasi yang diperoleh dari berbagai web site. Adapun yang menjadi manfaat dalam penulisan makalah ini adalah agar semua pihak yang terkait dalam dunia pendidikan (mahasiswa, masyarakat, guru, dan pemerintah) supaya bersama-sama berperan aktif dalam meningkatkan mutu pendidikan di Pulau Nias.










KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa, atas Berkat-Nya makalah ini dapat terselesaikan. Penulis menyadari, bahwa dalam penulisan makalah ini banyak kelemahan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca, terutama kepada para juri. Makalah ini disusun berdasarkan buku referensi yang ada, dan hasil pengamatan penulis.
Makalah ini berisi tentang “Peran Aktif Mahasiswa dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Pulau Nias”. Pada judul ini, penulis mencoba mengungkap hal-hal yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di Pulau Nias, solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan serta upaya yang dapat dilakukan oleh mahasiswa dalam meningkatkan mutu pendidikan di Pulau Nias. Dengan demikian tujuan pendidikan dapat terwujud sesuai yang diharapkan.
Lewat lembaran ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Iman Sudi Zega, M.Pd., Ibu Riana, M.Pd., dan rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan saran dalam pembuatan makalah ini serta kepada pegawai perpustakaan yang telah meminjamkan buku referensi kepada saya. Semoga makalah yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih.



Gunungsitoli, 19 November 2010
Penulis







DAFTAR ISI

ABSTRAK ....................................................................................................      i
KATA PENGANTAR ..................................................................................      ii
DAFTAR ISI ................................................................................................      iii
BAB I      PENDAHULUAN .......................................................................      1
A.    Latar Belakang ......................................................................      1
B.     Identifikasi Masalah ..............................................................      3
C.     Batasan Masalah ....................................................................      3
D.    Rumusan Masalah ..................................................................      3
E.     Tujuan Penulisan ....................................................................      3
F.      Manfaat Penulisan  ................................................................      4
G.    Asumsi Penulisan ...................................................................      4
H.    Keterbatasan Penulisan ..........................................................      4
I.       Batasan Operasional ..............................................................      4
BAB II    KAJIAN PUSTAKA ...................................................................      6
A.    Konsep Dasar Mutu Pendidikan  ..........................................      6
1.      Pengertian Pendidikan .....................................................      6
2.      Defenisi Mutu Pendidikan ..............................................      6
B.     Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan di Pulau Nias .........      10
C.     Solusi yang Dilakukan Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Pulau Nias Secara Umum ................................................................................................      11
D.    Upaya yang Dapat Dilakukan Mahasiswa Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Pulau Nias ........................................................................................      12
E.     Kerangka Berpikir .................................................................      14
BAB III   PENUTUP ....................................................................................      15
A.    Kesimpulan .............................................................................      15
B.     Saran .......................................................................................      16
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................      17
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ....................................................................      18




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang bersifat umum kepada setiap manusia di muka bumi ini. Pendidikan tidak terlepas dari segala kegiatan manusia  Dalam kondisi apapun manusia tidak dapat menolak efek dari penerapan pendidikan. Dalam pendidikan terdapat dua subjek pokok yang saling berinteraksi. Kedua subjek itu adalah pendidik dan subjek didik. Sejalan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang semakin pesat, maka mutu pendidikan berkembang pula. Dalam rangka umum, mutu mengandung derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa barang maupun jasa. Baik yang tangible maupun yang intangible. Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan.
Dalam proses pendidikan yang bermutu terlibat berbagai input. Input dimaksud seperti bahan ajar (kognitif, afektif dan psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta menciptakan suasana yang kondusif. Manajemen sekolah, dukungan kelas berfungsi mensinkronkan berbagai input tersebut. Antara lain mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar, baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler, ekstrakurikuler, dalam hidup substansi yang akademis maupun non akademis.
Mutu dalam konteks hasil pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah dalam kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir semester, akhir tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil tes kemampuan akademis, (misal: ulangan harian, ujian semester, dan ujian nasional). Dapat pula dibidang lain seperti prestasi di suatu cabang olahraga, seni atau keterampilan tambahan tertentu. Bahkan prestasi sekolah dapat pula berupa penghormatan.
Mutu juga sering disebut kualitas dan bobot. Jadi pendidikan yang bermutu yaitu pelaksanaan pendidikan yang dapat menghasilkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan negara dan bangsa pada saat ini. Sejalan dengan proses pemerataan pendidikan, peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan juga dilaksanakan. Peningkatan mutu ini diarahkan kepada peningkatan mutu masukan  yang diproses dalam dunia pendidikan
Berdasarkan pengamatan penulis bahwa mutu pendidikan yang diharapkan belum terwujud. Hal ini disebabkan karena: (1) Ketidakmampuan anak itu sendiri; (2) terbatasnya waktu siswa dalam belajar; (3) motivasi siswa untuk belajar kurang; (4) penggunaan teknologi tidak tepat; (5) rendahnya pemerataan pendidikan; (6) rendahnya kualitas guru; (7) rendahnya sarana fisik; (8) pengelolaan yang tidak tepat; (9) mahalnya biaya pendidikan; (10) rendahnya relevansi dengan kebutuhan.
Agar masalah tersebut dapat terselesaikan, maka penulis menguraikan peran mahasiswa dalam meningkatkan mutu pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh Isjoni dalam http://www.isjoni.com,
Ada dua peran mahasiswa dalam meningkatkan mutu pendidikan yakni: (1) berperan sebagai petugas knowledge transfer dari dunia kampus menuju luar kampus dalam upaya mencerdaskan bangsa dalam berbagai bidang terutama kalangan menengah ke bawah; (2) sebagai pelopor dalam pembentukan community development untuk memacu dinamisasi kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dianalisis bahwa baik buruknya nasib pendidikan bergantung pada kondisi pemuda dan mahasiswa sekarang ini, karena mahasiswa dipandang sebagai agen perubahan sosial (agent of social chamge) yang memiliki kualitas intelektual yang baik serta memiliki kepekaan dan nalar yang rasional untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan pendidikan dan sosial di masyarakat.
Selain itu, kurikulum sekolah yang tidak terstruktur menjadi proses belajar kaku dan tidak menarik. Pelaksanaan pendidikan seperti ini tidak mampu memupuk kreatifitas siswa untuk belajar secara efektif.
Jadi, menurut prediksi penulis bahwa salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan khususnya di Pulau Nias adalah bagaimana peran mahasiswa sebagai calon guru yang profesional bertindak dan berperilaku di dalam masyarakat untuk mewujudkan kualitas pendidikan yang diharapkan
      Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik mengangkat sebuah judul “Peran aktif mahasiswa dalam meningkatkan mutu pendidikan di Pulau Nias”

B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1.      Ketidakmampuan anak itu sendiri
2.      Rendahnya kualitas guru atau mahasiswa
3.      Rendahnya relevansi dengan kebutuhan
4.      Motivasi siswa untuk belajar kurang
5.      Penggunaan teknologi yang tidak tepat guna

C.    Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah, maka penulis membatasi penulisan ini pada peran mahasiswa dalam meningkatkan mutu pendidikan di Pulau Nias.

D.    Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicarikan jawabannya.
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah:
1.      Apa saja penyebab rendahnya mutu pendidikan di Pulau Nias?
2.       Apa saja Solusi yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di pulau Nias secara umum ?
3.      Bagaimana peran mahasiswa dalam meningkatkan mutu pendidikan di Pulau Nias ?

E.     Tujuan Penulisan
Tujuan merupakan sesuatu yang hendak dicapai. Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
1.      Untuk mendeskripsikan peran mahasiswa dalam meningkatkan mutu pendidikan di Pulau Nias.
2.      Untuk mendeskripsikan penyebab rendahnya mutu pendidikan di Pulau Nias.
3.      Untuk mendeskripsika solusi yang dilakukan secara umum.

F.     Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dalam penulisan makalah ini adalah agar pihak yang terkait (mahasiswa, masyarakat, pemerintah, guru) supaya secara bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan di Pulau Nias.

G.    Asumsi Penulisan
Asumsi merupakan anggapan dasar tentang suatu hal yang dijadikan pijakan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan penulisan. Yang menjadi asumsi dalam penulisan makalah ini adalah :
1.      Mutu pendidikan berbeda-beda.
2.      Hasil penulisan ini, merupakan gambaran mutu pendidikan di Pulau Nias berdasarkan pengamatan penulis dan informasi dari web site.

H.    Keterbatasan Penulisan
Adapun yang menjadi keterbatasan penulis dalam penulisan makalah ini adalah :
1.      Informasi-informasi dari berbagai web site dan seminar
2.      Variabel yang akan dikaji mencakup peranan mahasiswa dalam meningkatkan mutu pendidikan di pulau Nias.

I.       Batasan Operasional
Untuk menghindari timbulnya perbedaan, maka penulis memberikan batasan istilah yaitu :
1.      Mahasiswa merupakan insan akademis selain agen perubahan sosial dipandang memiliki kekuatan intelektual yang lebih, sehingga kepekaan dan nalar yang rasional diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan.
2.      Meningkatkan berarti melakukan perubahan dari yang tidak baik menjadi baik.
3.      Mutu adalah gambaran mengenai baik buruknya hasil yang dicapai oleh peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan. Suatu proses pembelajaran dianggap bermutu apabila mampu mengubah sikap, dan keterampilan peserta didik sesuai dengan yang diharapkan.



























BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Konsep Dasar Mutu Pendidikan 
1.      Pengertian Pendidikan
Menurut Syah (1995:10) bahwa “Pendidikan dapat diartikan sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan”.  Sedangkan Poertbaka Watja dan Harahap dalam Syah (1995:11) mengatakan bahwa pendidikan adalah:
…. usaha secara sengaja dari orang dewasa dengan pengaruhnya meningkatkan si anak kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya …. Orang dewasa itu adalah orang tua si anak atau orang yang atas dasar tugas dan kedudukannya mempunyai kewajiban untuk mendidik, misalnya guru sekolah, pendeta atau kiai dalam lingkungan keagamaan, kepala-kepala asrama dan sebagainya.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu usaha manusia untuk mengubah sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Pada hakikatnya pendidikan adalah usaha manusia untuk memanusiakan manusia itu sendiri.

2.      Defenisi Mutu Pendidikan
Menurut Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan bahwa:  “Kualitas (mutu) artinya tingkat baik buruknya sesuatu, derajat atau taraf (kepandaian, kecakapan)”.  Dalam sebuah Web yaitu: http://www.scribd.com/doc dikatakan bahwa “Mutu adalah panduan sifat-sifat produk yang menunjukkan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, baik kebutuhan yang dinyatakan atau kebutuhan yang tersirat, masa kini dan masa depan”. Sedangkan menurut Depdiknas (2001:4) mengemukakan:


Mutu dalam konteks pendidikan mencakup input, proses, dan output pendidikan lebih jauh dijelaskan bahwa input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses, yang dimaksud sesuatu adalah berupa sumber daya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi keberlangsungan proses … input harapan-harapan berupa berupa visi, misi, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai …. proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemanduan input yang dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoybel learning), mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memperdaya peserta didik.

Berkaitan dengan input yang dimaksud dalam kualitas proses pembelajaran Nana Syaodih S., dkk (2006:7) mengemukakan bahwa:
Input diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu (1) raw input, yaitu siswa yang meliputi intelek, fisik-kesehatan, sosial-afektif dan peer group. (2) Instrumental input, meliputi kebijakan pendidikan, program pendidikan (kurikulum), personil (Kepala sekolah, guru, staf TU), sarana, fasilitas, media, dan biaya, dan (3) Environmental input, meliputi lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, masyarakat, dan lembaga sosial, unit kerja.

Dalam rangka mewujudkan proses pembelajaran yang berkualitas, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Bab IV Pasal 19 ayat 1 tentang Standar Nasional Pendidikan  (SNP) menerangkan bahwa:
Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpatisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemampuan sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologi peserta didik.

Senada dengan itu Nana Syaodih S., dkk (2006:7) mengungkapkan bahwa:

Mutu pendidikan atau mutu sekolah tertuju pada mutu lulusan. Merupakan sesuatu yang mustahil, pendidikan atau sekolah menghasilkan lulusan yang bermutu, jika tidak melalui proses pembelajaran yang bermutu pula, terjadi proses pendidikan yang bermutu jika didukung oleh faktor-faktor penunjang proses pendidikan yang bermutu pula.

Berkaitan dengan pembelajaran yang bermutu, dalam sebuah web yaitu: http://scribd.com/doc menjelaskan konsep mutu pembelajaran yang mengandung lima rujukan, yaitu:

Kesesuaian meliputi indikator sebagai berikut: sepadan dengan karakter peserta didik, serasi dengan aspirasi masyarakat maupun perorangan, cocok dengan kebutuhan masyarakat, sesuai dengan kondisi lingkungan, selaras dengan tuntutan zaman, dan sesuai dengan teori, prinsip, dan/atau nilai baru dalam pendidikan.
Daya tarik meliputi indikator sebagai berikut: kesempatan belajar yang tersebar dan karena itu mudah dicapai dan diikuti, isi pembelajaran yang mudah dicerna karena telah diolah sedemikian rupa, kesempatan yang tersedia yang dapat diperoleh siapa saja pada setiap saat diperlukan, pesan yang diberikan pada saat dan peristiwa yang tepat, keterandalan yang tinggi, terutama karena kinerja lembaga dan lulusannya yang menonjol ….
Efektifitas pembelajaran seringkali diukur dengan tercapainya tujuan, atau dapat pula diartikan sebagai ketepatan dalam mengelola suatu situasi, atau ‘doing the right things’. Pengertian ini mengandung ciri: bersistem (sistematik), yaitu dilakukan secara teratur, konsisten atau berurutan melalui tahap perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan ….
Efisiensi pembelajaran dapat diartikan sebagai kesepadanan antara waktu, biaya, dan tenaga yang digunakan dengan hasil yang diperoleh atau dapat dikatakan sebagai mengerjakan sesuatu dengan benar ….
Produktivitas pada dasarnya adalah keadaan atau proses yang memungkinkan diperolehnya hasil yang lebih baik, keikutsertaan dalam pendidikan yang lebih luas, lulusan lebih banyak, lulusan yang lebih dihargai oleh masyarakat, dan berkurangnya angka putus sekolah.

Menurut Combs dalam buku Zebua dan Lase (2004:81-2).  Agar mutu pendidikan itu baik, maka perlu diperhatikan sub-sub daripada pendidikan sebagai suatu sistem.  Ada 12 sub sistem dalam pendidikan, yakni :
1.        Tujuan
Tujuan menjelaskan tentang apa yang hendak dicapai oleh pendidikan. Sub sistem tujuan merupakan panduan dan acuan bagi seluruh kegiatan dalam sistem pendidikan.
2.        Murid/Siswa
Murid/siswa menjelaskan khalayak yang menjadi peserta dalam proses pendidikan; anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tersebut.
3.        Manajemen
Manajemen merupakan segala kegiatan perencanaan, pengkoordinasian, pengarahan dan penilaian dalam sistem pendidikan.
4.        Struktur dan jadwal waktu
Struktur dan jadwal waktu menjelaskan tentang cara pelaksanaan kegiatan dan pengaturan waktu untuk mencapai tujuan.
5.        Materi
Materi merupakan hal-hal yang pokok yang perlu disampaikan oleh pengajar dan perlu dipelajari oleh murid/siswa untuk mencapai keterampilan akhir yang menjadi tujuan pendidikan. Materi ini diatur dalam seperangkat rencana sistematis yang disebut kurikulum berfungsi sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar.
6.        Tenaga Pengajar dan Pelaksana
Tenaga pengajar dan pelaksana merupakan tenaga penggerak sistem pendidikan dan memperlancar proses pendidikan untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan.
7.        Alat Batu Belajar
Alat bantu belajar bersumber kepada barang-barang hasil produksi masyarakat. Sebagai sub-sistem pendidikan, alat bantu belajar berfungsi memungkinkan terjadinya proses belajar yang lengkap, menarik dan beragam. Contoh: buku pelajaran, papan tulis, peta, peralatan laboratorium, audivisual, dan lain-lain.
8.        Fasilitas
Fasilitas dapat diartikan secara sempit sebagai kampus yang terdiri dari gedung dan perlengkapannya. Secara luas, fasilitas dapat diartikan sebagai tempat terjadinya proses pendidikan. Sehingga, secara luas proses pendidikan dapat terjadi dimana saja, tidak hanya di kampus, tetapi juga diberbagai tempat di luar kampus, seperti di rumah, di museum, dan lain-lain.
9.        Teknologi
Teknologi merupakan cara yang dipergunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dari segi proses maupun keluarannya. Teknologi ini terdiri dari perangkat keras, yaitu peralatan yang dapat digunakan untuk menunjang proses pendidikan yang lebih baik untuk mencapai tujuan pendidikan. Perangkat lunak, yaitu cara-cara, strategi dan metode yang dirancang secara sistematis untuk menunjang proses pendidikan dan meningkatkan hasil guna proses tersebut.
10.    Kendali Mutu
Kendali mutu bersumber kepada sistem nilai yang ada dalam masyarakat dan falsafah hidup bangsa. Sistem nilai dan falsafah menjadi standar untuk menyeleksi, masukan sistem, mengidentifikasi proses yang tepat, dan mengevaluasi sistem pendidikan. Pengendalian kualitas pendidikan berfungsi guna membina peraturan-peraturan pendidikan dan standar pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesuai dengan tujuan pembangunan bangsa.
11.    Penelitian
Penelitian merupakan pertanyaan terhadap keefektifan sistem pendidikan sebagaimana diimplementasikan di masyarakat. Penelitian pendidikan menghasilkan informasi untuk memperbaiki pengetahuan dan pengelolaan sistem pendidikan di masyarakat.
12.    Biaya pendidikan
Biaya pendidikan berfungsi melancarkan kelangsungan proses pendidikan. Biaya pendidikan biasanya berasal dari penghasilan masyarakat dan negara. Biaya pendidikan menjadi indikator dari tingkat efisiensi sistem pendidikan.

Berdasarkan pendapat di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa kualitas (mutu) proses pembelajaran merupakan gambaran mengenai baik buruknya hasil yang dicapai oleh peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan. Proses pembelajaran dianggap berkualitas apabila berhasil mengubah sikap, perilaku dan keterampilan peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang membuahkan hasil ke arah yang lebih baik dari sebelumnya

B.     Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan di Pulau Nias
Menurut Gulõ dalam http://www.google.co.id “Ada dua hal yang mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan di Pulau Nias yaitu faktor ketidakmampuan secara ekonomi, dan ketidakmampuan anak itu sendiri ....” Sedangkan Nazara dalam http://www.niasutara.com/2010/03/22 mengatakan “Pendidikan di Pulau Nias sangat jauh ketinggalan. Salah satu faktornya karena ketidakmampuan ekonomi orang tua, akibatnya orang tua tidak dapat menyekolahkan anak-anaknya di jenjang yang lebih tinggi dan di sekolah yang berkualitas …”
selanjutnya menurut Laia dalam http://www.niasonline.net “Penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah kekurangan tenaga guru …” lebih lanjut Wau dalam http://www.niasonline.net mengatakan “…. Yang menjadi faktor rendahnya mutu pendidikan adalah ketidak aktifnya guru-guru tersebut untuk mengajar”.
Berdasarkan pendapat di atas, maka penulis menguraikan masalah-masalah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan di Pulau Nias. Ada dua faktor yang mempengaruhinya, yakni :

1.      Faktor Internal
a.       Ketidakmampuan anak itu sendiri
b.      Terbatasnya waktu siswa dalam belajar
c.       Motivasi siswa untuk belajar kurang
d.      Penggunaan teknologi tidak tepat guna.

2.      Faktor Eksternal
Adapun yang menjadi faktor eksternal penyebab rendahnya mutu pendidikan di Pulau Nias adalah :
a.       Rendahnya pemerataan pendidikan
b.      Rendahnya kualitas guru
c.       Rendahnya sarana fisik
d.      Pengelolaan yang tidak tepat
e.       Mahalnya biaya pendidikan
f.       Rendahnya relevansi dengan kebutuhan

C.    Solusi yang Dilakukan Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Pulau Nias secara umum

Menurut Baeha dalam http://www.niasonline.net/2010/04/14 “.... salah satu pilar dalam pembangunan pendidikan di Kabupaten Nias, pemerintah Kabupaten Nias ke depan telah memprogramkan penataran kepada guru untuk mengejar ketertinggalan Nias selama ini”. Selanjutnya Wau dalam http://www.niasonline.net mengatakan salah satu solusi yang dilakukan agar meningkatnya mutu pendidikan adalah menyediakan dana BOS ….”.
Menurut penulis untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, maka ada beberapa solusi yang dilakukan, yakni:
1.      Siswa yang melanjut pada jenis dan jenjang pendidikan perlu diadakan seleksi, terutama melalui tes wawancara. Dengan tujuan, agar siswa tidak salah memasuki suatu sekolah dalam keadaan terpaksa.
2.      Menerapkan disiplin, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.
3.      Memberikan motivasi kepada siswa dengan berbagai cara yang ditempuh oleh orang tua, guru dan pemerintah.
4.      Memberikan pemahaman yang jelas tentang penggunaan teknologi yang tepat serta menjelaskan dampak terhadap penyalahgunaan teknologi tersebut.
5.      Pemerataan pendidikan dilakukan dari pusat hingga sampai ke daerah secara berkesinambungan oleh pihak yang terkait.
6.      Untuk menempatkan seseorang guru di dalam tugasnya harus sesuai dengan profesinya, mengikuti seminar dan pelatihan lainnya yang berhubungan dengan pendidikan.
7.      Membangun sarana fisik seperti, ruang belajar, perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain.
8.      Melakukan pengelolaan yang tepat yang dimulai dari pusat sampai kepada lembaga-lembaga pedesaan.
9.      Pemerintah harus memberikan bantuan kepada siswa yang ekonomi keluarganya menengah ke bawah.
10.  Sarana dan prasarana dilengkapi sesuai dengan kebutuhan yang tepat.

D.    Upaya yang Dilakukan Mahasiswa Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Pulau Nias

Mahasiswa merupakan sebagai generasi muda yang memiliki peranan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Mahasiswa sebagai insan akademis juga sebagai makhluk sosial. Dengan tingkat intelektual yang dimiliki mahasiswa, diharapkan dapat memberikan perubahan yang berarti terhadap kemajuan pendidikan di Pulau Nias.
Dengan tingkat intelektualitas dan cara berpikir yang dimiliki oleh mahasiswa secara dinamis. Hal itu belumlah cukup, jika tidak dibarengi dengan akhlak dan nilai norma-norma yang sesuai agama. Mahasiswa bukan hanya menjadi supervisor terhadap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan politik saja. Melainkan mahasiswa harus mencari cara untuk memberikan sosial responbility dari arah yang lain. Salah satunya ialah dengan berperan aktif dalam meningkatkan mutu pendidikan di Pulau Nias.
Mahasiswa yang sudah mampu dalam berpikir, adalah mahasiswa yang tidak sekedar memikirkan kepentingan akademis semata. Namun jauh tersirat dalam benaknya tentang arti dan kualitas hidupnya sebagai pribadi yang mampu mengabdi terhadap masyarakat. Pribadi yang diharapkan dalam hal ini adalah pribadi yang mampu melihat permasalahan disekitarnya serta menjadi bagian penentu arah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Suatu keadaan yang sangat menyedihkan terhadap rendahnya mutu pendidikan di Pulau Nias, hendaknya menjadi perhatian mahasiswa.
Fungsi agent of social change yang melekat pada jati diri mahasiswa pada saat ini, hendaklah bukan sebatas slogan-slogan demontrasi saja. Namun suatu pemikiran yang yang rekonstruktif dan solutif terhadap permasalahan pendidikan. Sebagai mahasiswa ada beberapa perannya seperti yang dikemukakan oleh Isjoni dalam http://www.isjoni.com,

Ada dua peran mahasiswa dalam meningkatkan mutu pendidikan yakni: (1) berperan sebagai petugas knowledge transfer dari dunia kampus menuju luar kampus dalam upaya mencerdaskan bangsa dalam berbagai bidang terutama kalangan menengah ke bawah; (2) sebagai pelopor dalam pembentukan community development untuk memacu dinamisasi kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah.

Lebih lanjut Telaumbanua (2010:1-4) mengatakan bahwa:
Pribadi yang unggul adalah mereka yang tahu secara persis potensi apa  yang mereka miliki, dan dengan kemampuan yang optimal, mereka mampu menggerakkan setiap elemen yang bergerak disekitarnya. Adapun ciri-ciri yang jadi pribadi yang unggul adalah: (1) fisik dan mental sehat; (2) percaya diri; (3) tidak mudah putus asa; (4) bertanggung jawab; (5) melayani semua orang; (6) berpikir ke depan; (7) motivasi tinggi; (8) mengembangkan potensi; (9) inisiatif dan kreatif; (10) gairah hidup tinggi; (11) komunikasi baik; (12) loyalitas tinggi. Untuk menjadi pribadi yang profesional harus memiliki kompetensi kepribadian, sosial, paedagogik, profesional, ketulusan dan keikhlasan.

Berdasarkan pendapat di atas,  dapat kita artikan bahwa mahasiswa sebagai calon guru yang profesional harus memiliki pribadi yang unggul. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan mahasiswa dalam meningkatkan mutu pendidikan di pulau Nias, antara lain:
1.      Sadar bahwa pendidikan itu penting
Kesadaran merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam kelangsungan hidup.  Ketika adanya kesadaran seseorang bahwa pendidikan itu penting, maka ia berusaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya. Sebaliknya jika kesadaran itu tidak ada, maka tidak akan pernah memiliki motivasi ingin tahu.
2.      Intropeksi diri
Maksudnya seorang mahasiswa harus betul-betul mengintropeksi dirinya, baik secara kognitif, afektif dan psikomotor. Setelah pribadinya terbenahi, maka ia dapat mentransfer sejumlah ilmu yang diperolehnya kepada masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berkomunikasi secara efektif dan empatik dengan peserta didik, orang tua peserta didik, sesama mahasiswa, dan masyarakat; memanfatkan teknologi informasi secara tepat.
3.      Sebagai mediator, merupakan suatu peran yang dilakukan dengan menyiapkan perangkat pembelajaran selama berlangsungnya proses pembelajaran. Dengan tujuan untuk mempermudah siswa dalam memahami apa yang ingin disampaikan.
4.      Melakukan kontrol terhadap kebijakan pemerintah, maksudnya mahasiswa peka terhadap kebijakan pemerintah dan mengajukan suatu pendapat dan saran sebagai solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan di Pulau Nias.
5.      Sebagai fasilitator, merupakan peran mahasiswa dalam memberi pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran.
6.      Sebagai pelopor dalam pembentukan kelompok belajar untuk memacu dinamisasi masyarakat kalangan menengah ke bawah.
7.      Sebagai pembangkit, pendorong terhadap kelompok yang sudah ada di masyarakat yang selama ini belum berfungsi dan berusaha untuk memfungsikannya.

E.     Kerangka Berpikir
Pendidikan merupakan suatu usaha orang dewasa untuk memanusiakan manusia itu sendiri. Agar mutu pendidikan dapat meningkat, maka diperlukan peran aktif mahasiswa dan masyarakat. Dengan keterlibatan mereka, maka mutu pendidikan dapat meningkat.
Untuk lebih jelasnya perhatikan bagan berikut :

 












                                    Bagan: kerangka Berpikir
BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Bila kita perhatikan bahwa mutu Pendidikan di Pulau Nias masih rendah bila dibandingkan dengan mutu pendidikan di daerah lain. Kehadiran mahasiswa di tengah-tengah masyarakat, hendaknya memberikan solusi yang positif kepada masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan. Bahwa mahasiswa dengan tingkat intelektualitasnya dan cara berpikir yang dinamis, itu belumlah cukup jika tidak dibarengi dengan akhlak dan nilai norma-norma sesuai dengan agama. Mahasiswa merupakan penentu masa depan Pulau Nias. Apabila mahasiswa rapuh, maka Pulau Nias ini akan perlahan sirna. Adapun hal-hal yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di Pulau Nias dapat digolongkan menjadi dua bagian, yakni :

1.      Faktor Internal
a.       Ketidakmampuan siswa itu sendiri
b.      Terbatasnya waktu siswa dalam belajar
c.       Motivasi siswa untuk belajar kurang
d.      Penggunaan teknologi tidak tepat guna.

2.      Faktor Eksternal
a.       Rendahnya pemerataan pendidikan
b.      Rendahnya kualitas guru
c.       Rendahnya sarana fisik
d.      Pengelolaan yang tidak tepat
e.       Mahalnya biaya pendidikan
f.       Rendahnya relevansi dengan kebutuhan
Berdasarkan masalah di atas maka mahasiswa yang merupakan insan akademis dan juga agen perubahan sosial (agent of social) dipandang memiliki kekuatan intelektual yang lebih sehingga kepekaan dan nalar yang rasional diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan mutu pendidikan di Pulau Nias.
Adapun upaya yang dapat dilakukan mahasiswa dalam meningkatkan mutu pendidikan di Pulau Nias adalah :
1.      Sadar bahwa pendidikan itu penting
2.      Intropeksi diri
3.      Sebagai mediator
4.      Melakukan kontrol terhadap kebijakan pemerintah
5.      Sebagai fasilitator
6.      Sebagai pelopor dalam pembentukan kelompok belajar untuk memacu dinamisasi masyarakat kalangan menengah ke bawah.
7.      Sebagai pembangkit, pendorong terhadap kelompok yang sudah ada di masyarakat yang selama ini belum berfungsi dan berusaha untuk memfungsikannya.

B.     Saran
Adapun yang menjadi saran dalam makalah ini adalah :
1.      Hendaknya kurikulum tidak selalu berubah-ubah. Apalagi berganti Mentri berganti juga kurikulum. Hal ini dapat mempengaruhi mutu dari pada pendidikan.
2.      Dalam menjalankan proses pendidikan, hendaknya seluruh pihak yang terlibat didalamnya betul-betul dilaksanakan sesuai dengan hati nuraninya.










DAFTAR PUSTAKA

Baeha, B. Binahati , 2010, Mutu Pendidikan Nias Sangat Tertinggal Jauh Dengan Daerah Lain, (online), (http://niasonline.net/2010/04/4/, tanggal diakses 14 November 2010).

Gulo, Fakhili, 2010, Pendidikan Solusi Keluar dari Kemiskinan, (online), (http://www.Google.co.id, tanggal diakses, 14 November 2010).

Isjoni, 2007, Masalah dan solusi Pendidikan di Riau, (online), (http://www.Isjoni.com, tanggal diakses, 14 November 2010).

Karsidi, Ravik, 2005, Profesionalisme Guru dan Peningkataqn Mutu Pendidikan di Era Otonomi Daerah, (online), ( http://lowongankerjamu.com, tanggal diakses, 14 N0vember 2010).

Mulyasa, 2007, Kurikulum Tingkat satuan Pembelajaran, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Nazara, Sua Hasil, 2010, Peningkatan Mutu Pendidikan, (online) (http://nusantara.wordspress.com, tanggal diakses, 15 November  2010)

Syah Muhibbin, 1995, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Rosda, Bandung.

Tampubolon, 2009, Kualitas Proses Pembelajaran di Indonesia, ( online), (http://scrib. Com/ doc, tanggal diakses, 05 November 2010)

Telaumbanua, Sadieli, 2010, Menjadi Pribadi yang Unggul Sebagai Guru Profesional, Makalah disajikan pada Seminar Hari Ulang Tahun Sumpah Pemuda ke-82 diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Gunungsitoli, Gunungsitoli, tanggal 29 Oktober 2010.

Tim Penyusun Kamus, 2002, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.

Zebua Yanus, Famahato Lase, 2004, Profesi  Keguruan, Diktat tidak diterbitkan, IKIP Gunungsitoli.






DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nopenius Zai dilahirkan di Hilimbõwõ Kecamatan Idanõgawo (sekarang kecamatan Ulugawo) Nias, Sumatera Utara pada tanggal 05 November 1986. Anak ketujuh dari ketujuh bersaudara dari pasangan Bapak Ar. Zai dan Ibu Ami Zebua. Penulis memasuki Sekolah Dasar di SD Negeri 075037 Hilimbõwõ-Hilifosu dan tamat pada tahun 2000. Setelah itu, penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Idanõgawo dan selesai pada tahun 2003. Selama dua tahun penulis berhe.nti pendidikan dan tinggal di asrama Katolik Idanõgawo dan bekerja sebagai Ketua Asrama dan ikut pelayanan bersama Pastor. Pada tahun 2005 penulis melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Idanõgawo dan lulus pada tahun 2008. Dengan berbekal pendidikan di SMA, penulis sedang melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi IKIP Gunungsitoli di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Tahun Angkatan 2008/2009.

1 komentar: