Jumat, 01 Maret 2013

HAKIKAT MENULIS



Oleh: Nopenius Zai
HAKIKAT MENULIS
  1.1  Pengertian

            Menulis sebagai padanan istilah mengarang memiliki pengertian sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang dalam mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Dalam redaksi yang berbeda, menulis juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengekspresikan ide, pikiran, pengetahuan, ilmu dan pengalaman hidup dalam bahasa tulis yang jelas, runtut, ekspresif, enak dibaca dan bisa dipahami orang lain. Kegiatan menulis ini sangat mementingkan unsur pikiran, penalaran dan data faktual karena wujud yang dihasilkannya berupa tulisan ilmiah dan non-fiksi.
            Dengan memahami pengertian menulis tersebut, jelas bahwa pengungkapan ide secara tertulis ini merupakan kegiatan yang cukup kompleks. Perwujudannya diperlukan sejumlah persyaratan formal yang tentunya juga melibatkan berbagai faktor yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Pemahaman yang baik terhadap sosok dan aspek menulis ini, setidak-tidaknya akan membantu dalam mewujudkan program pengajaran menulis yang lebih seksama.  Untuk kepentingan ini penelahan secara teoretis terhadap aspek menulis akan banyak memberikan sumbangan yang bermanfaat.

1.2 Kegunaan Menulis
            Perihal menulis sebagai salah satu bentuk kegiatan komunikasi verbal, sampai sekarang ini masih memiliki peran yang sangat penting di samping sarana, media, dan wahana komunikasi lainnya. Kepentingannya tidak hanya tampak pada peranan dan wujud kegiatannya, melainkan juga pada fungsi dan nilai sumbangan hasilnya yang sangat berarti bagi perkembangan kehidupan manusia yang berbudaya. Anggapan dan pandangan semacam ini tentu saja bukanlah hal baru, melainkan telah banyak dikemukakan orang, terutama para penulis atau ahli yang berkepentingan dalam bidang tulis-menulis.
            Sehubungan dengan anggapan tersebut, dapatlah dipahami jika karya tulis sebagai produk kegiatan menulis memiliki sejumlah kelebihan, di samping kelemahan dan keterbatasannya. Kawulasan dalam Widodo (1987), misalnya, mengemukakan beberapa kelebihan karya tulis antara lain (1) karya tulis memiliki daya bukti yang lebih kuat, (2) dengan adanya bantuan teknologi reproduksi, tulisan dapat diperbanyak sejumlah yang diperlukan, (3) angka, tabel, grafik, dan skema dapat dikemukakan melalui karya tulis, (4) masalah yang rumit dapat dilaporkan secara jelas dan sistematis melalui karya tulis, (5) karya tulis dapat disimpan sehingga mempunyai sifat permanen , dan (6) karya tulis dapat diteliti perlahan-lahan, dengan seksama dan berulang-ulang.
            Dalam kaitannya dengan fungsi karya tulis, dapat dikemukakan beberapa di antaranya, (1) dapat mengatasi masalah jarak antara penulis dan pembaca, (2) dapat mengatasi masalah perbedaan waktu, (3) ikut menentukan pertumbuhan dan perkembangan ilmu dan teknologi, (4) merupakan wahana yang dapat digunakan untuk menilai kemampuan dan keterampilan penulisanya.
            White (1987) menjelaskan pentingnya keterampilan menulis dalam kehidupan para pembelajar, yaitu untuk (1) kepentingan masa depabn (pekerjaan), (2) kepentingan ujian yang menuntut penjelasan/paparan secara tertulis, (3) kepentingan pembelajar dalam mengikuti dan memperhatikan pelajaran, (4) kebutuhan penulisan karya tulis sebagai salah satu teknik ujian akhir. Hal yang sama diungkapkan oleh Akhadiah, dkk (1989) bahwa beberapa keuntungan yang dapat dipetik dari pelaksanaan kegiatan menulis, yaitu (1) dapat mengenali kemampuan dan potensi kita, (2) dapat mengembangka berbagai gagasan, (3) dapat menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik tulisan, (4) dapat mengorganisasikan ide-ide secara sistematik serta mengungkapkannya secara tersurat, (5) dapat meninjau serta menilai gagasan sendiri secara objektif, (6) lebih mudah memecahkan masalah, (7) mendorong lebih belajar secara aktif, dan (8) membiasakan berpikir serta berbahasa secara tertib.
            Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penguasaan keterampilan menulis merupakan salah satu hal yang sangat penting dalamkehidupan manusia, terlebih-lebih pembelajar di berbagai satuan pendidikan.




1.3  Variabel Menulis
            Dalam lingkup telaah bahasa, menulis termasuk salah satu kategori keterampilan komunikasi verbal. Jenis keterampilan lain yang memiliki hubungan erat adalah menyimak, berbicara, dan membaca. Keempat keterampilan berbahasa ini dalam pengembangannya diperlukan tata bahasa, tata makna, wacana, dan ciri perilaku bahasa dalam pemakainnya (Stern, 1984). Di samping kesamaan yang ada, jika dibandingkan dengan ketiga jenis keterampilan lain, menulis memiliki lingkup, proses, dan ciri perwujudan sendiri. Dari segi ini pula, menulis dapat ditemukenali penanda unsurnya.
            Ditinjau dari ruang lingkupnya, kegiatan menulis melibatkan masalah tata bahasa, tata makna, pengetahuan kewacanaan juga pengetahuan tentang sistem penulisan, pengolahan dan pengembangan gagasan serta teknik pemaparan.
            Ditinjau dari proses kegiatan yang ditempuh, menulis melibatkan sejumlah kegiatan yang beragam. Corbert dan Burke dalam Widodo (1987) mengungkapkan bahwa aktivitas menulis melibatkan kegiatan (1) pengolahan gagasan, (2) penataan kalimat, (3) pengembangan paragraf, dan (4) pengembangan karangan dalam jenis wacana tertentu.
            Ditinjau dari segi perwujudannya, kegiatan menulis akan menghadirkan bentuk tulisan yang mengandung dua unsur utama, yaitu kode kebahasaan dan pesan yang ingin disampaikan pengarangnya. Sebagai media paparan tulis, kode kebahasan merupakan suatu kesatuan yang dibangun oleh unsur berupa kalimat beserta satuan pesan yang dikandung oleh setiap kalimat itu sendiri.

1.4  Kompetensi Seorang Penulis
            Setiap orang yang menguasai bahasa (Indonesia), tidak but aksara dan angka, serta tidak buta pengetahuan tentu dapat menulis. Lalu, bagaimana pula dengan pendapat yang mengatakan bahwa menulis itu memerlukan bakat? Kedua proposisi di atas tampaknya perlu disandingkan. Menulis adalah keterampilan yang dapat dipelajari. Orang yang memang memiliki bakat menulis tetapi tidak mau belajar menulis tentu agak sulit menghasilkan karya tulis. Sebaliknya, orang yang tidak mempunyai talenta menulis akan menghasilkan tulisan yang bernas apabila berhasrat/bersungguh-sungguh berlatih menulis.
            Seseorang yang berbakat menulis, atau tidak berbakat menulis sama-sama mempunyai kesempatan menjadi penulis. Persoalannya adalah kesungguhan dalam belajar menulis yang lebih banyak menentukan keberhasilannya menjadi seorang penulis. Agar kita mendapat gambaran yang jelas tentang kompetensi yang perlu dimiliki oleh seorang penulis, disajikan berikut ini.

1.4.1        Kemampuan Menemukan Masalah yang Akan Ditulis
            Seseorang tidak dapat menulis apabila tidak tahu apa yang akan ditulisnya. Oleh karena itu, penulis harus mampu menemukan dan memahami masalah yang akan ditulisnya. Kemampuan penalaran yang baik serta kepekaan terhadap keadaan yang terjadi dalam masyarakat dan lingkungannya sangat membantu penulis dalam mencari dan memahami masalah. Dengan kemampuan dan kepekaannya itu pengarang melihat, mencari, menemukan, serta menajamkan dan mengembangkan masalah.
            Di samping itu, seorang penulis juga harus mampu melihat hubungan-hubungan antara gejala-gejala dan kejadian-kejadian yang dilihatnya. Kemudian, ia mengembangkan hubungan-hubungan itu dan menyusunnya ke dalam satu keseluruhan yang teratur.

1.4.2        Kepekaan Terhadap Kondisi Pembaca
            Sebagai salah satu bentuk peristiwa komunikasi, menulis pada hakikatnya adalah menuangkan gagasan, pendapat, perasaan, keingingan, dan kemauan, serta informasi ke dalam tulisan dan kemudian mengirimkannya kepada orang lain. Jadi, terminal kegiatan menulis adalah pada diri orang lain, yaitu pembaca. Oleh karena itu, setiap kali menulis, seorang penulis harus mengetahui benar siapa pembaca tulisannya itu. Kemudian, ia berusaha memahami kondisi pembacanya dan menyesuaikan tulisannya dengan kondisi pembaca Ini tidaklah berarti bahwa penulis mengubah atau mengorbankan gagasan yang akan disampaikannya, melainkan lebih pada usaha bagaimana penyajian yang paling sesuai dengan karak-teristik pembacanya. Untuk itu, ia harus mengetahui apa yang telah diketahui oleh pembacanya berkaitan dengan materi tulisannya, apa yang belum mereka ketahui, dan apa pula yang perlu diketahui oleh mereka.

1.4.3        Menyusun Perencanaan Tulisan
            Menulis memerlukan perencanaan. Oleh karena itu, setiap kali seorang penulis akan menulis suatu karangan ia harus mempunyai perencanaan penulisan. Perencanaan itu mungkin ada dalam pikiran saja atau mungkin pula dituangkan secara terinci di atas kertas. Penulis yang profesional menyusun dan menuliskan secara terinci perencanaan penulisannya, karena berdasarkan pengalaman-pengalamannya dalam menulis, perencanaan penulisan sangat bermanfaat bagi seluruh proses menulis.
            Perencanaan tulisan tidak sekedar outline. Istilah yang sering digunakan adalah desain (design) yang di dalmnya diungkapkan berbagai hal seperti masalah, tujuan, kegiatan-kegiatan, macam-macam data, sumber informasi, cara mengolah/menganalisis, rencana penyajian. Biasanya rencana ini dilengkapi chart atau skema yang menggambarkan proses penulisan.

1.4.4        Kemampuan Menggunakan Bahasa Indonesia
            Penulis harus menguasai bahasa yang digunakan untuk menulis. Jika ia menulis dalam bahasa Indonesia maka penulis tersebut harus menguasai bahasa Indonesia dan mampu menggunakannya dengan baik dan benar. Menguasai bahasa Indonesia berarti mengetahui dan dapat menggunakan kaidah-kaidah tata bahasa Indonesia, mengetahui dan mampu menggunakan kosa kata bahasa Indonesia. Ia juga harus mengetahui dan mampu menggunakan ejaan bahasa Indonesia yang berlaku.
           
1.4.5        Memulai menulis
            Memulai menulis sering menjadi kendala dalam menulis. Hal ini dialami oleh penulis yang terbiasa maupun yang pemula. Kesulitan untuk memulai menulis biasanya timbul karena keterbatasan menyusun kalimat pertama. Untuk mengatasi hal ini dapat ditempuh dengan cara memberanikan diri menulis kalimat pertama apa adanya. Jadi, tidak perlu lama memikirkannya. Ingat! Menulis itu adalah suatu proses yang tidak hanya sekali jadi.



1.4.6        Memeriksa Naskah Karangan Sendiri
            Menulis merupakan pekerjaan lanjut ulang. Artinya menuliskan bagian-bagian secara berkelanjutan dan membuka kembali setiap bagian untuk memperbaiki (menambah atau mengurangi). Kegiatan ini dapat dipandu dengan pertanyaan berikut:
1)      Apakah yang telah seselai saya tulis?
2)      Apakah keseluruhan tulisan saya ini cukup jelas?
3)      Apakah cukup lancar penyajian tulisan saya ini?
4)      Apakah kata-kata yang saya gunakan dalam setiap kalimat dalam tulisan saya ini jelas maksudnya dalam mendukung maksud wacana?
5)      Apakah kalimat-kalimat yang saya gunakan dalam tulisan saya ini jelas maksudnya dalam mendukung maksud wacana?
6)      Apakah keseluruhan tulisan saya ini sesuai dengan kemampuan pemahaman pembaca yang saya perkirakan
            Hal lain yang perlu direnungkan dalam melakukan aktivitas menulis adalah sebagai berikut:
1)       Apakah saya dapat bekerja keras?
2)       Apakah saya mempunyai keberanian moral?
3)       Apakah saya mempunyai keyakinan tentang apa yang saya tuliskan?
4)       Apakah saya dapat memandang sesuatu secara proporsional?
5)       Dapatkah saya berpikir logis?
6)       Apakah saya berani bertanggung jawab terhadap apa yang saya kemukakan?
7)       Dapatkah saya mengkritik diri saya sendiri?
8)       Apakah saya mempunyai kepekaan terhadap apa yang terjadi dalam masyarakat?

































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar