Jumat, 01 Maret 2013

Morfen dan fonem



MORFEM DAN FONEM
MORFEM
Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang memiliki makna. Dengan kata terkecil berarti “satuan” itu tidak dapat dianalisis menjadi lebih kecil lagi tanpa merusak maknanya. Umpamanya bentuk membeli dapat dianalisis menjadi dua bentuk terkecil yaitu (me-) dan (beli). Bentuk (me-) adalah sebuah morfem, yaitu morfem afiks yang secara gramatikal memiliki sebuah makna; dan bentuk (beli) juga sebuah morfem, yakni morfem dasar yang secara leksikal memiliki makna. Kalau bentu beli dianalisis menjadi lebih kecil lagi menjadi be- dan li, pasti keduanya tidak memiliki makna apa-apa. Jadi, keduanya (be- dan li) bukan morfem.
Contoh lainnya, berpakaian dapat kita analisis kedalam satuan-satuan terkecil. Menjadi (ber-) (pakai) dan (-an). Ketiga bagian ini adalah morfem, di mana (ber-) adalah morfem prefiks, (pakai) adalah morfem dasar, dan (-an) adalah sufiks. Maka morfem (ber-, -an ) memiliki makna gramatikal, sedangkan morfem (pakai) memiliki makna leksikal.
Agar lebih muda kita pahami, kita dapat mengenal Morfem dalam dua bentuk; yaitu morfem bebas dan morfem terikat.
-          Morfem Bebas adalah suatu bentuk bahasa yang dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa. Contoh Gunung, Harimau, Kita, Bendera dll.
-          Morfem Terikat adalah suatu bentuk bahasa yang tidak bisa berdiri sendiri dalam tuturan yang biasa, tapi harus diberi Prefiks/awalan atau Sufiks/akhiran terhadap tuturan itu sendiri. Contoh: Jalan à BerJalan, Rumah à BerRumah dll.
 Untuk mengenal mana morfen itu, kita perlu mengetahui lebih dalam apa yang menjadi prinsip dalam menentukan morfem;
1.      Prinsip pertama è Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis dan mana yang sama merupakan morfem yang sama atau satu morfem. Contoh; baju àbaju baru, baju batik dll
2.      Prinsip kedua è Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang berbeda merupakan morfem yang sama atau satu morfem, apa bila bentuk-bentuk itu mempunyai makna yang sama, serta perbedaan struktur fonologis dapat dijelaskan secara fonologis. Contoh; mem, meN, me, meng, meny, menge dan me- (membawa, mendukung, menggali, menyuruh, mengebom, melerai)
3.      Prinsip ketiga è Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang berbeda, sekalipun tindakan dapat dijelaskan secara fonologis, dianggap morfem yang sama apabila mempunyai makna yang sama dan berdistribusi komplementer. Contoh; bel, be, ber (belajar, bekerja, berjalan)à be/ker/ja Dalam distribusi komplementer ini ada be- disebabkan oleh kondisi kesatuan yang mengikutinya, ialah satuan suku pertama dalam kata itu yang berakhiran er (ker/ja).
4.      Prinsip keempat è Apabila dalam suatu deretan struktur, suatu bentuk berparalel dengan suatu kekosongan maka kekosongan itu morfem (morfem zero) contoh;                           1. Ayah membaca buku               2. Ayah …baca buku 3. Ayah menjahit baju           4. Ayah makan roti    5. Ayah minum es à yang dimaksud morfem zero dalam contoh/kalimat dalam pada kata verbalnya tidak ada transitif/ awalan meN- pada predikat dalam kalimat bersangkutan makanya itu kekosongan/morfem zero.
5.      Prinsip kelima è Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang sama merupakan morfem yang berbeda apabila maknanya berbeda. Contoh; 1. Buku bermakna buku kitab, buku pustaka (nama) dll 2. Buku bermakna buku anisa, buku sudirman (pemilik)dll.
6.      Prinsip keenam è Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis sama merupakan morfem yang sama apabila maknanya sama atau berhubungan diikuti distribusi yang berlainan. Contoh; kepala orang, kepala desa, kepala negara dll. …….
7.      Prinsip ketujuh è Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis sama merupakan morfem yang berbeda walaupun maknanya berhubungan tetapi tidak sama distribusinya. Contoh; 1. Kursi bermakna tempat duduk 2. Kursi bermakna kedudukan/jabatan           3. Amplop bermakna sampul surat 4. Amplop bermakna uang sogok/pelicin dalam urusan.
8.      Prinsip kedelapan è Bentuk-bentuk yang dapat dipisahkan merupakan morfem. Misalnya bersandar, sandaran, menduduki, kedudukan, tuarenta, maka dapat kita masukan dalam morfem ( ber, -an, sandar, men, -i, ke, -an, duduk, tua, renta)

Jedah dengan mendengarkan sebuah lagu dari operator…………

FONEM
Morfo-fonemik mempelajari perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Morfem ber-, misalnya, terdiri dari tiga fonem ialah /b,e,r/. akibat pertemuan morfem itu dengan morfem ajar, morfem ./r/ berubah menjadi /l/, sehingga pertemuan morfem ber- dengan morfem ajar menghasilkan kata belajar. Demikian di sini terjadi proses morfo-fonemik yang berupa perubahan fonem, ialah perubahan fonem /r/ pada ber- menjadi /l/.
Kata kerajaan /keraja?an/ terdiri dari dua morfem ialah morfem ke-an dan raja. Akibat pertemuan kedua morfem itu, terjadilah proses morfofonemik yang berupa penambahan ialah penambahan fonem/?/ pada ke-an, sehingga morfem ke-an menjadi /ke-?an/.
Kata melerai terdiri dari dua morfem, ialah morfem meN- dan morfem lerai. Akibat dari pertemuan kedua morfem itu, fonem /N/ pada morfem meN- jadi hilang atau kata lain diluluhkan karena kata di depannya sehingga morfem meN- menjadi me-.
Dari perkara yang kita bahas tentang fonem, maka dalam bahasa Indonesia sedikit ditemukan proses morfo-fonemik antara lain;
1.      Proses perubahan fonem
2.      Proses penambahan fonem
3.      Proses hilangnya fonem

Proses perubahan fonem
Proses perubahan fonem terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasarnya. Fonem /N/ pada kedua morfem itu berubah menjadi /m, n, ñ, ŋ/, hingga morfem meN- dan morfem peN- berubah menjadi mem-, men-, meny-, meng-  dan juga pem-, pen-, peny-, peng-. Perubahan itu tergantung pada kondisi bentuk dasar yang mengikutinya. Kaidah-kaidah perubahannya dapat diikhtisarkan. Contoh;
1.      Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi fonem /m/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem/p, b, f/ misalnya
meN- + paksa à memaksa
meN- + bangun à membangun
meN- + fasihkan à memfasihkan
peN- + pikir à pemikir
peN- + buru à pemburu
peN- + fitnah à pemfitnah dll
2.      Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi fonem /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /t, d, s/. Fonem /s/ di sini hanya khusus bagi beberapa bentuk dasar yang berasal dari bahasa asing yang masih mempertahankan keasingannya. Contoh;
meN- + tulis à menulis
meN- + dapat à mendapat
meN- + survey à mensurvey
peN- + tari à penari
peN- + dengar à pendengar
peN- +  supply à pensupply
ctt: Dalam hal ini, fonem /s/ dalam bahasa indonesia tidak bisa berubah tapi menjadi /ny/ contoh siapkan à menyiapkan, dll
3.      Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi /ñ/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan /s, š, c, j/. contoh:
meN- + sukai à menyukai
meN- + syukuri à mensyukuri/məñšukuri/
meN- + cari à mencari /məñcari/
meN- + jaga à menjaga /məñjaga/
peN- + suap à penyuap
peN- + cetak à pencetak /pəñcata/
peN- + jaga à penjaga /pəñjaga/

4.      Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi /ñ (ng)/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /k, g, x(kh), h/. contoh:
meN- + kutip à mengutip
meN- + garis à menggaris
meN- + khianati à mengkhianati
men- + hukum à menghukum
peN- + kacau à pengacau
peN- + gaji à penggaji
peN- + khayal à pengkhayal
peN- + hias à penghias
5.       Fonem /r/ bentuk menjadi fonem /l/ pada morfem ber- dan per-  apabila bentuk dasarnya berupa morfem ajar;
Ber- + ajar à belajar
Per- + ajar à pelajar
6.      Fonem /?/ pada morfem-morfem duduk/dudu?/, rusak/rusa?/, petik/peti?/ dan sebaginya, berubah menjadi /k/ sebagai akibat pertemuan morfem-morfem itu dengan morfem ke-an, peN-an, dan –i. contoh:
Ke – an + duduk/dudu?/ à kedudukan/kədudukan/
peN – an + duduk/dudu?/ à pendudukan/pəndudukan/
-i + duduk/dudu?/ à duduki/duduki/

Proses penambahan fonem
1.      Proses penambahan fonem /ə/ terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meN-  dengan bentuk dasarnya yang terjadi dari satu suku. Fonem tambahannya ialah /ə/, sehingga meN-  berubah menjadi menge-. Contoh:
meN- + cat à mengecat
meN- + las à mengelas
2.      Proses penambahan fonem /ə/ terjadi juga sebagai akibat pertemuan morfem peN-  dengan bentuk dasarnya yang terjadi dari satu suku sehingga morfem peN- berubah menjadi penge-. Contoh:
peN- + bom à pengebom
peN- + bur à pengebur
3.      Akibat pertemuan morfem –an, ke-an, peN-an dengan bentuk dasarnya, terjadi penambahan fonem /?/ apabila bentuk dasar itu berakhir dengan vokal /a/, penambahan /w/ apabila bentuk dasar itu berakhir dengan /u, o, aw/ dan terjadi penambahan /y/ apabila bentuk dasar itu berakhir dengan /i, ay/. Contoh:
-an + hari à harian/hariyan/
-an + lambai/lambay/ à lambaian/lambayyan/
-an + terka à terkaan/terka?an/
Ke-an + lestari à kelestarian/kələstariyan/
Ke-an + pulau/pulaw/ à kepulauan/kəpulawwan/
Ke-an + pandai/panday à kepandaian/kəpandayyan/
peN- + bantai/bantay/ à pembantaian/pəmbantayyan/
peN- + temu à penemuan/pənəmuwan/
peN- + kacau/kacaw/ à pengacauan/pənacawwan/
peN- + ada à pengadaan/pəñada?an/

proses hilangnya fonem
1.      Proses hilangnya fonem /N/ pada meN- dan peN- terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan pembentuk dasar yang berawal dengan fonem /l, r, y, w, dan nasal/. Contoh:
meN- + lerai à melerai
meN- + warnai à mewarnai
peN- + lupa à pelupa
peN- + nyanyi à penyanyi
2.      Fonem /r/ pada morfem ber-, per- dan ter- hilang sebagai akibat pertemuan morfem-morfem itu dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /ər/.contoh:
Ber- + ramai à beramai
Per- + kerja à pekerja
Ter- + rasa à terasa
3.      Fonem-fonem /p, t, s, k/ pada awal morfem hilang akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar kecuali dari bahasa asing.
meN- + paksa à memaksa
meN- + tulis à menulis
meN- + sapu à menyapu
meN- + karang à mengarang
peN- + pukul à pemukul
peN- + sadap à penyadap
peN- + tulis à penulis
peN- + karang à pengarang

Demikian yang bisa paparkan untuk kita dan bagi para pendengar dimana saja pun mereka berada………..


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar